Friday, March 7, 2014

Besakih

A trip to the Besakih temple turns out to be quite difficult due the location is in the highest of Bali Island. The road to the temple is likely to climb. The Besakih temple is located in the village of Besakih in Karangasem area in the region of Mount Agung, the highest volcano which is still active in Bali. Located on the highest plateau in Bali makes a blazing sun is rare, the weather tends to be dark, cold, foggy and often rainy.

Far from everywhere ... That's the mother temple of Besakih. Up and down the winding streets, houses are rare one with the other, the left-right gap, as well as the weather that always cloudy and humid shattered our intention not to visit Besakih Temple. The tops of the Palm trees under our foot, the green of the rice fields of Bali as well as the warm silence brings us to Besakih Temple which is the mother of all Balinese temples. Besakih Temple is the oldest, largest and the forerunner of the Temple in Bali, these temple is older than the Tanah Lot Temple and Gunung Kawi Temple. The shape of the temple stairs has similarities to rung Aztecs in Maya. Old, beautiful and mysteriously standing from the time before the Majapahit Kingdom makes Besakih considered to be the mother of all Hindus Temples in Indonesia.

Sacred, everyone are not welcome to climb upstairs the Besakih, those who do not worship but climbs up to photograph by their self, merely a person who does not respect to the culture of others. There are limits which should not be violated sacred, unless we want to worship. Visitors can only round of Besakih and purchase a variety of souvenirs that are provided.

Hotels and Inns around the temple is very rare even though the air is cool and the atmosphere is very calm to stay as serene as the night. Various stories about the Leak and the wizards are felt real for the citizens of the temple. Along the dark of the night, houses which are rather far apart and the Misty Mountains as well as a number of big trees around Mount Agung and Dim lamp of the residents makes the night in a deserted Besakih Temple might be fun..

Perjalanan ke Besakih ternyata cukup sulit, berada di daerah tertinggi di Pulau Bali, jalan menuju Besakih cenderung menanjak. Besakih terletak di desa Besakih di daerah Karangasem di wilayah gunung Agung, gunung berapi tertinggi yang masih aktif di Bali. Berada di dataran tinggi tertinggi di Bali membuat terik matahari adalah hal yang langka, cuacanya cenderung berkabut, dingin, gelap dan sering hujan.

Jauh dari mana- mana...itulah Pura Besakih. Jalanan yang berkelok-kelok naik turun, rumah penduduk yang jarang satu dengan yang lain, kanan kiri jurang, serta cuaca yang selalu mendung dan lembab tentu tidak menyurutkan niat mengunjungi Pura Besakih. Bisa melihat pucuk pohon kelapa dibawah kaki, hijaunya sawah Bali serta kesunyian yang hangat membawa kita ke Pura Besakih yang merupakan Ibu dari semua pura di Bali. Pura Besakih adalah Pura tertua, terbesar yang merupakan cikal bakal pura di Bali, bahkan ternyata Pura Besakih ini berumur lebih tua dari pura Tanah Lot dan Pura Gunung Kawi. Bentuk anak tangga Besakih bahkan memiliki kemiripan dengan anak tangga suku Aztec di Maya. Tua, cantik secara misterius dan masih kokoh berdiri sejak masa sebelum kerajaan Majapahit belum berdiri hingga sekarang membuat Pura ini dianggap sebagai Ibu dari semua Pura di Indonesia.

Sakral, tidak sembarang orang bisa menaiki anak tangga Besakih, jika ada orang yang tidak beribadah tapi naik untuk berfoto-foto, orang tersebut hanyalah orang yang tidak menghargai budaya orang lain. Ada batas suci yang tidak boleh dilanggar, kecuali kita mau beribadah. Pengunjung hanya bisa mengitari pelataran Besakih dan membeli berbagai souvenir yang disediakan.

Hotel dan penginapan di sekitar Besakih sangat jarang meskipun udaranya sangat sejuk dan suasananya tenang setenang malam. Berbagai cerita tentang Leak dan santet terasa nyata bagi warga Besakih, seiring dengan gelapnya malam, rumah penduduk yang agak berjauhan dan suasana pegunungan yang berkabut serta banyaknya pohon besar di sekitar gunung Agung. Lampu penduduk pun cenderung remang-remang sekitar Besakih ini. Bermalam di Besakih yang sunyi tentu menyenangkan.....


Tiantan Park

Tiantan Park or Temple of Heaven in Surabaya is a replica of the Tiantan Park in Beijing. The shape is similar but different from the number of visitors and the interest of tourists to these attraction. Tiantan Park or Temple of Heaven is located in the tourist area of Surabaya of Kenjeran Park. In The Region East of Surabaya. Admission to the Tiantan Park is the parking ticket we paid at the entrance counter in the tourist area of Kenjeran, Rp. 10.000,-per car. The rest did not have to pay again. Tiantan Park/ Temple of Heaven is the limit back of the Kenjeran area, which is not far from Sanggar Agung and Mangrove.


The atmosphere was quiet, no visitors but me and one spouse under a tree while others was busy did somewhat in their closed car. The Kenjeran tourist area is well-known as a place that is used to date from couples in the sealed car, the motor until pedestrians. Cheap hotels are mess arranged scatters in the region of Kenjeran. Feels a little anxiousness by entering the Tiantan Park of Kenjeran due many cases of motor vehicle theft ever took place. Of course a quiet atmosphere didn't cause a kind of sense of the controversy over the romance. 


Temple of heaven consists of several stairs. I could hear the voice of the Beach...wus wus wus wus....Just by stepping on these first stairs i felt the winds blow, coastal winds are more pronounced when climbing up the stairs until stand in the Tiantan building. The staircase rises to blew to be more toned,  like an increasing button of the speed of the fan, the more wind over the more toned by its stairs.


Spinning ... As a similar round pattern of the Relief  with a lot of vandalism, these wall are written of a racist quote by some visitors. Tiantan Park Kenjeran is often used by the drunken local youth. Alone in a place where there is no activity apparently evoke feelings of insecurity, except at a quiet expensive villa of course. . Touring round around the temples of Heaven while a scavenger is seen to follow behind my back caused a bit of uncomfortable feeling.


Tiantan Park Gate was a little bit open that brought my curiosity to see what's inside, apparently the only clothesline from the bums whom spend the night at Tiantan Park. The Temple of heaven is indeed less functioning, just sort of sweetener only, It has become a home for the homeless shelter, reluctantly I went into. I walked briefly around the temples of heaven twice. Passed many dirt that been filled by the horses, then back to the car and said goodbye ...The Temple Of Heaven...Tiantan Park Surabaya ...


Tiantan Park atau Kuil Langit di Surabaya merupakan Replika dari Tiantan Park di Beijing. Bentuknya mirip tapi memiliki perbedaan dari jumlah pengunjung dan ketertarikan wisatawan terhadap obyek wisata ini. Tiantan Park atau Kuil Langit terletak di kawasan wisata Kenjeran Surabaya. Di Wilayah Surabaya Timur. Tiket masuk ke Tiantan Park adalah tiket parkir yang kita bayar di loket masuk kawasan wisata Kenjeran, Rp. 10.000,- per mobil. Selebihnya tidak harus membayar lagi. Tiantan Park atau Kuil Langit Kenjeran berada di batas paling ujung belakang kawasan Kenjeran, tidak jauh dari mangrove dan Sanggar Agung.

Suasananya sepi, tidak ada pengunjung hanya ada satu pasangan dibawah pohon, beberapa sibuk entah melakukan apa di dalam mobil yang dibiarkan tertutup rapat. Kawasan wisata Kenjeran memang terkenal dengan kawasan yang dipakai untuk orang berpacaran, mulai dari dalam mobil yang tertutup rapat, sampai motor bahkan pejalan kaki. Hotel- hotel murah tidak tertata pun bertebaran di dalam kawasan ini. Masuk kedalam Tiantan Park terasa sedikit was-was karena, banyak kasus pencurian kendaraan bermotor pernah terjadi, suasana yang sepi tidak menimbulkan suatu romantisme lebih semacam rasa galau.

Kuil langit terdiri dari beberapa anak tangga, angin pantai berhembus kencang suaranya pun terdengar wus wus wus hanya dengan menapaki anak tangganya. Angin pantai memang lebih terasa saat menaiki anak tangga, tidak akan terasa jika berdiri di pelatarannya, semakin naik ke tangga hembusannya semakin kencang, anak tangga Tiantan Park bagaikan tombol untuk menaikkan kecepatan di kipas angin, semakin keatas angin semakin kencang. 

Berputar...relief Tiantan Park Kenjeran terasa sama, dinding pintunya banyak dicoret-coret, bahkan di temboknya ditulis kata- kata kasar yang berbau rasis oleh pengunjung. Tiantan Park Kenjeran memang sering dipakai untuk ajang mabuk pemuda lokal. Sendirian di tempat yang tidak ada aktivitas ternyata membangkitkan perasaan tidak aman, kecuali di villa yang mahal tentu. . Berkeliling mengitari kuil langit sementara seorang pemulung terlihat mengikuti di belakangku menimbulkan sedikit perasaan tidak nyaman.

Pintu gerbang Tiantan Park yang sedikit tersibak, membuatku penasaran untuk melihat apa yang ada di dalam, ternyata hanya jemuran baju dari para gelandangan yang bermalam di Tiantan Park. Kuil langit ini memang kurang berfungsi, hanya semacam pemanis saja, oh ternyata sudah menjadi semacam rumah buat tempat tinggal para gelandangan, Enggan aku masuk kedalam, mengitari kuil langit dua kali, berjalan sebentar di tamannya yang banyak dipenuhi kotoron kuda dan kembali ke mobil sambil mengucapkan selamat tinggal...Kuil Langit..Tiantan Park Surabaya...

Another Xian

 

Xian is the area in RRC which the majority of the inhabitants are Muslim. Xian's Mosque even has a shape resembling as a Pagoda of Tiantan Park. Meanwhile there is another Xian in the area of Pandaan Pasuruhan East Java. Standing a Red Mosque that is shaped like a Temple, the Mosque is the Mosque of Muhammad Cheng Ho. Cheng Ho was an China's Admiral whom adhering to Islam and had been travelled to Indonesia in the past.


Xian, adalah daerah di RRC yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Xian bahkan memiliki Masjid yang bentuknya mirip Pagoda Tiantan Park. Di daerah Pandaan Pasuruhan pun berdiri sebuah Masjid yang berwarna merah berbentuk mirip Klenteng, Masjid tersebut adalah Masjid Muhammad Cheng Ho. Cheng Ho adalah laksamana Cina yang menganut agama Islam dan pernah berkunjung ke Indonesia di masa lampau.

Thursday, March 6, 2014

Stasiun Gubeng


 

Train is one of an special form which is owned by the island of Java but others islands in Indonesia yet. Train station exists along the island of Java, not also in Madura and Bali, in spite of  nearly located  to the island of Java. The latest news is the train will be launched in the area of Sumatra. The Majority railway lines in Indonesia are relics of the Netherland

 
Fortunately, Surabaya enough to acquire the railway line, which certainly have some stations as a condition of discharge. Once, Gubeng Station  which is located in the street of Stasiun Gubeng dealing with DKT  Hospital , Around 15 minutes to Surabaya Plaza and Grand City Mall. 

Gubeng station is not as big station  as Balapan station in Solo, Tugu station in Jogja and Tawang Station in Semarang. Most of the Gubeng's passengers waiting for trains for departure to Malang, Probolinggo, Sidoarjo, Mojokerto, Kertosono to travel route is not so far.



Kereta Api adalah salah satu bentuk ekslusivitas yang dimiliki oleh pulau Jawa, dan tidak ada di Pulau lain di Indonesia. Stasiun Kereta Api hanya ada di sepanjang pulau Jawa, tidak juga di Madura dan Bali yang terletak bersebelahan dengan pulau Jawa. Berita terbaru adalah akan diluncurkan kereta api di kawasan Sumatra. Jalur kereta Api yang ada sekarang pun  sebagian besar adalah peninggalan Belanda.

Surabaya sebagai kota yang cukup beruntung mendapatkan jalur kereta api tentu memiliki beberapa stasiun sebagai syarat pemberhentian kereta. Salah satunya adalah Stasiun Gubeng yang terletak di Jalan Stasiun Gubeng, berhadapan dengan Rumah Sakit DKT, tidak jauh dari Plaza Surabaya dan Grand City Mall.

Stasiun Gubeng ini tidak sebesar dan seluas stasiun Balapan di Solo, Tugu di Jogja atau Stasiun Tawang di Semarang. Kebanyakan penumpang menunggu kereta untuk keberangkatan ke Malang, Probolinggo, Mojokerto, Sidoarjo, Kertosono untuk rute perjalanan yang tidak begitu jauh.

Wednesday, March 5, 2014

Grand City

Surabaya offers a variety of attraction to invite many people to shop from Surabaya shopping festival which is held every year, until the rise spread of the construction of the shopping center. One is a fairly new Grand City mall, which opened in 2009 to the Ciputra World Super Block Mall opened to the public in 2011. A few metres from the City Hall of Surabaya, location of Grand City are behind the submarine Museum on Jl. Walikota Mustajab.

Not only as a Shoping mall, Grand City also has a Convex, which is often rented for events, meetings or weddings celebrations.

The Food Court and cinema 21 of Grand City Mall are visitor's favorite destination. 

A Mall in urban society is a part of the popular culture that evolved into a gathering place for a new transform of a kind of square in the old days.

Surabaya menawarkan berbagai daya tarik yang mengajak orang  berbelanja mulai dari Surabaya shopping festival yang diadakan tiap tahun, hingga maraknya pembangunan shopping center. Salah satu yang cukup baru adalah Grand City mall yang dibuka untuk umum tahun 2009 hingga Ciputra World yang dibuka untuk umum tahun 2011, terletak  beberapa meter dari kantor Balaikota Surabaya tepatnya di jalan Walikota Mustajab. Lokasi Grand City berada di belakang Museum Kapal Selam Surabaya.

Tidak hanya sebagai Shoping center/ mall, Grand City juga memiliki gedung Convex yang sering disewa untuk acara pameran, rapat akbar ataupun pernikahan.

Tempat tujuan favorit pengunjung Grand City adalah lokasi Food Court dan Bioskop 21.

Mall adalah bagian dari budaya populer yang berkembang menjadi tempat berkumpulnya warga, semacam alun- alun di zaman dulu.

Karma Kandara

 
One evening, we sat on the stairs of Karma Kandara, there was only us while the sun began to sink. The Sea turned the Karma colour into blue sometimes green, sometimes soothing. As the sun began to set, shimmering a grain of gold scattered upon the sea. From the top of the stairs we waited for a beautiful maroon sunset. The warm rays touched our skin. Felt the peaceful and pleasant could be. I thought about a good Karma. Quiet and warm afternoon couple a steps from Karma Kandara.

Suatu senja, Kita duduk di anak tangga Karma Kandara, hanya ada kita dan matahari yang mulai tenggelam, laut Karma yang cantik pun berubah warna kadang hijau kadang biru menyejukkan hati. Saat matahari mulai tenggelam, kilaunya bagai butiran emas tersebar di air laut. Dari atas anak tangga kita menunggu matahari tenggelam. Sinarnya yang hangat menyentuh kulit hati. Terasa damai dan menyenangkan, suasana sore yang sepi dan hangat  di anak tangga beberapa langkah dari Karma Kandara...

Batu Secret Zoo


 

Nothing makes a great visit to more memorable than taking a lot of photograph. Here we go! Visiting Batu Secret Zoo which is located near opposite from Batu Night Spectaculer. The location of the Batu Secret Zoo approximately 14 km from the Centre of the city of Malang on JL.Oro-oro Ombo.  

In spite of  Batu Secret Zoo is not infamous hidden place that can't be told then why its called as a Secret Zoo? Perhaps because of its shape resembling a meandering path and maze up down to resemble a maze. 


 


 
 

Outside the building is divided into four entrances and ticket purchase. The first entrance is part of the Wildlife Museum called the Museum Satwa which is made as if to resemble the houses of Parliament in the United States. Entering the Museum Satwa we will be confronted with an imitate fossil of tyrannosaurus. Not far from thence look diverse kinds of butterflies and reptiles, owls until the preserved fish. The second door heading towards the Tree Inn hotel, which is shaped like the roots of a tree. The third is the entrance of the restaurant with various menus, generous buffets, some Lions in cages and plastic tree serves as the interior of the restaurant. On the outer side of the restaurant there is a mini market selling various souvenirs of the Batu Secret Zoo starting from the sticker into dolls and t-shirts. Entrance of a car parking near the extremity is a door leading to the Zoo. The color red is excited immediately welcomed the arrival of the guests. Different from other zoos in Indonesia, Batu Secret Zoo is the first modern zoo in Indonesia due to accommodate the system, forms and workings of the Zoo in modern countries. The building is quite clean and well maintained enough,  though slightly blistering weather remains inevitable as  not covered roof farm buildings indifferently with Museum Satwa and its restaurant.




 

What are the Animal of Batu Secret Zoo? Animal collection are quite varied from tiny reptile into big giant elephant. Nearly from the entrance, the giant rats were cringing as an reception. Some Gibbon shouted to attract the attention of visitors,  while the servants of sun go kong running around jumping around in their cages, some birds singing merrily to Macau into red flaminggo snaking in its cage. Collection of animals in the Zoo can't changes the hot weather become cooler but could makes a day.


Batu Secret Zoo terletak berseberangan tidak jauh dari Batu Night Spectaculer. Lokasi Batu Secret Zoo berada di kota wisata Batu sekitar 14 km dari pusat kota Malang tepatnya di jl.Oro-oro Ombo.

Kenapa dinamakan kebun binatang rahasia kota Batu? Mungkin karena bentuknya yang menyerupai maze dan jalannya berkelok-kelok naik turun menyerupai labirin.


Bangunan Batu Secret Zoo dibagi menjadi Empat pintu masuk dan tempat pembelian tiket. Pintu masuk pertama adalah bagian dari Museum Satwa, bangunan Museum Satwa dibuat seakan menyerupai gedung parlemen di Amerika, memasuki Museum Satwa kita akan berhadapan dengan fosil tiruan tyranosaurus tidak jauh dari situ terlihat beraneka ragam jenis kupu- kupu dan reptil diawetkan, burung hantu sampai aneka ikan.
Pintu kedua menuju kearah hotel Pohon Inn yang berbentuk seperti akar pohon. Pintu masuk ketiga adalah restoran dengan berbagai menu buffet, beberapa singa di kandang dan pohon plastik berperan sebagai interior restoran. Di sisi luar Restoran terdapat mini market yang menjual aneka souvenir khas Batu Secret Zoo mulai dari sticker sampai boneka dan kaos. Pintu masuk paling ujung didekat parkiran Mobil adalah pintu menuju kebun binatang. Warna merah yang gembira langsung menyambut kedatangan para tamu. Berbeda dari kebun binatang lain di Indonesia, Batu Secret Zoo merupakan kebun binatang modern pertama di Indonesia karena mengakomodasi sistem, bentuk dan cara kerja kebun binatang di negara maju. Bangunan yang cukup bersih dan binatang yang cukup terawat membuat pengunjung senang meskipun cuaca yang sedikit terik tetap tak terhindarkan karena bangunan kebun binatangnya tidak beratap berbeda dengan Museum Satwa dan Restorannya.







Koleksi binatang Batu Secret Zoo cukup bervariasi, Tikus- tikus raksasa pun mengernyit bak penerima tamu tidak jauh dari pintu masuk. Beberapa siamang berteriak untuk menarik perhatian pengunjung, tidak lama kemudian anak buah kera sakti berlarian melompat-lompat di kandang, beberapa burung Macau bernyanyi riang sampai merahnya flaminggo meliuk-liuk di kandangnya. Koleksi Binatang di Batu Secret Zoo memang tidak bisa membuat cuaca yang panas menjadi sejuk tapi bisa membuat hari menjadi menyenangkan.
 

Monday, March 3, 2014

Sudut Kota Surabaya


Surabaya is the city of Hero which almost of all corners of the city were busy, busy and busy. A trading town surrounded by many factories, Surabaya grown to be the second major city in Indonesia with the weather tends to be hot. Surabaya is formed from the words of Sura or Suro that means Shark and Boyo/ Buaya that means crocodile. The Khu Bilai Khan symbolized with Suro/ Shark while Raden Wijaya symbolized with Boyo/crocodile. History records the city of Surabaya were formed from a battle between Troops of Khu Bilai Khan and Raden Wijaya. Raden Wijaya had been won the battleship with Khu Bilai Khan in the Kali Mas. Raden Wijaya's victory over the forces of the Mongols into early formation of Majapahit. Victory day of Raden Wijaya was enshrined as the birthday of Surabaya.

Indonesia's economic condition as deteriorating, uncontrolled inflation, prices of foodstuffs are soaring while the community still have a great need to be prestige into lifestyles is a manifestation of urban communities in Indonesia, so does Surabaya. Many Malls were developed as a part of a cultural movement. Nevertheless the slums in Surabaya remained but not as many as slump area in Jakarta.

The city of Surabaya on around Kalimas as the starting point of the city is filled with many houses, the Red Bridge and two Malls such as ITC and Pasar Atom market.

The old city of Surabaya scattered into beautiful old buildings around JL Darmo include hospital, Bank, Office, library, Home of Officer and Wismilak house. These become the city's decoration which always by passed by most people without briefly linger long admired due it is located in the bustling traffic.

Growing up as the city that gave birth to many history ranging from Majapahit until the independence of Indonesia brings many newcomers  arrives in to the city of Surabaya, to take part in the development and history of the city. 

As far as I observe, Surabaya is city friendly for the males. People of Surabaya are generally less hospitable to children and women. Nor because got labeled as Southeast Asia's largest prostitution, but from the emergence of the term endel or attitude tend to be friendlier than females against males that I encountered in everyday conversation of young society in Surabaya. The attitude of people tends to be straightforward, outspoken and unequivocal does not give the opportunity and room for those with sensitive personal and easily offended in Surabaya. Surabaya also growing with straightforward and resolute culture of its people seems to hint that the hero has no friend but fans ...

Surabaya sang kota Pahlawan, hampir semua sudut kota sibuk, sibuk dan sibuk. Sebagai kota perdagangan yang dikepung banyak pabrik, Surabaya tumbuh menjadi kota besar kedua di Indonesia dengan cuaca yang cenderung panas. Surabaya terbentuk dari kata Suro dan Boyo, Suro atau Ikan Hiu melambangkan Pasukan Khu Bilai Khan dan Boyo atau Buaya melambangkan Raden Wijaya. Sejarah mencatat kota Surabaya terbentuk dari pertempuran antara Raden Wijaya dan Pasukan Khu Bilai Khan yang di menangkan oleh Raden Wijaya di daerah Kali Mas. Kemenangan Raden Wijaya atas pasukan tentara Mongol menjadi awal masa terbentuknya kerajaan Majapahit. Hari kemenangan Raden Wijaya diabadikan sebagai hari lahir Surabaya.

Kondisi ekonomi Indonesia yang seolah semakin memburuk, inflasi yang tidak terkendali, harga bahan makanan yang melonjak sedangkan masyarakat tetap memiliki kebutuhan yang besar akan prestige, gaya hidup dan gengsi itulah wujud dari masyarakat perkotaan di Indonesia, salah satunya adalah Surabaya. Mall pun berkembang sebagai bagian dari pergerakan budaya. Meskipun demikian daerah kumuh di Surabaya tetap ada tapi tidak sebanyak di Jakarta. 

Sudut kota Surabaya di sekitar kalimas sebagai titik awal terbentuknya kota dipenuhi oleh banyak rumah warga, jembatan merah dan dua Mall seperti ITC dan pasar Atom

Kota tua Surabaya yang terletak di jalan Darmo yang cantik meliputi Rumah sakit, Bank, Kantor, Perpustakaan, Rumah dinas Kapolda dan  Gedung Wismilak bagaikan hiasan yang selalu dilewati oleh sebagian besar orang tanpa sempat berlama- lama mengagumi karena berada di kawasan lalulintas yang ramai.

Tumbuh sebagai kota yang melahirkan banyak sejarah mulai dari Majapahit sampai masa Kemerdekaan. Banyak pendatang pun berdatangan ke kota Surabaya, turut ambil bagian dalam perkembangan dan sejarah kota.

Sejauh yang aku amati Surabaya adalah kota yang ramah bagi kaum lelaki. Masyarakat Surabaya pada umumnya kurang ramah terhadap anak- anak dan perempuan. Bukan karena pernah mendapat label sebagai prostitusi terbesar se Asia Tenggara, pendapatku ini lahir dari munculnya istilah endel atau sikap yang cenderung ramah dari kaum perempuan terhadap kaum lelaki yang biasa aku temui di percakapan sehari-hari masyarakat Surabaya. Sikap masyarakat Surabaya cenderung lugas dan tegas. Bahasa dan sikap yang cenderung blak-blakan ini seolah tidak memberi kesempatan dan ruang bagi pribadi yang sensitif dan mudah tersinggung. Surabaya pun semakin berkembang dengan budaya lugas dan tegas seolah mengisyaratkan bahwa Pahlawan tidak memiliki teman tapi pahlawan memiliki penggemar...




Tegalalang Ubud

The green of the fields up and down that covered by numerous rivers and creeks makes Ubud as a favorite tourist destination. Rice fields of paddies in Ubud differently with other regions due its applied irrigation system. Once, Tegalalang rice field is irrigated by water with the method of Subak. Subak irrigation system in paddy fields is an application of the principles of Tri Hita Kirana as living in harmony with God, harmony with mankind and harmony with nature. The Balinese Hindu community philosophy as living harmony with nature is applied by Subak system irrigating of  rice fields. Rice fields are irrigated by the springs, Lakes or canal  that streamed to the Shrine/ Pura from the ostensibly regulated flow of water to flow into the paddy fields of citizens through a cooperative water management system by some people called Subak. Pura Taman Ayun Temple, Pura Ulun Danu, The Pakerisan River is an example of a source of irrigation rice field made the Subak. Rice fields  irrigation systems that is sourced from Lakes, springs, rivers and the Canal then streamed into Temples to be organized in order to get through the rice fields had been existed from a thousand years ago.  In the year 2012, UNESCO set the cultural richness of the heritage of the SUBAK recognized worldwide as the world heritage site. 

Paddy fields in Bali does not use pesticides and artificial fertilizers, as a form of respect for nature. It is true that vegetables and paddies are more green, more tasty and fresh longer in Bali.

Tegalalang is one of hundreds of terasiring in Bali, some paddy fields in Gunung Salak Denpasar are no less beautiful than tegalalang. Of course Tegalalang is special because is defined as one of the tourist destination. Visit to Tegalalang with no entrance charge, we only need to park our vehicles along the road, the rice fields itself is located on a side street of jalan Tegalalang which is about 1 km from the statue of Ubud.

Rainy, cool and a little humid weather of Ubud. Tegalalang as a part of Ubud  also have similar weather characteristics. According to one of my husband's friends Evan, who is Balinese, Mostly Ubud's people are those who are in the upper castes, the Brahmins and Kshatriya castes because Ubud itself is surrounded by numerous castles and noble residences. In the past the Ubud was the region of residence of King Bali with his families and the nobles. So can be said that Ubud is sort of a city inhabited by many descendants of the Manor such as Baluwerti region which is the noble and families of King Yogya's residence.

Tegalalang and other rice fields location is a bit away from the city of  Ubud. Ground processing system which is different from other regions in Indonesia makes paddy fields in Bali are different as well. It feels quiet relax cycling in the morning while listening to the sound of noisy stream with green even yellow expanse of rice fields around Tegalalang until river of Pakerisan as Julia Robert did it in the film Eat, Pray and Love.



Sejuk,  tercover oleh banyaknya sungai dan anak sungai. Hijaunya persawahan yang naik turun mejadikan Ubud sebagai daerah tujuan wisata yang favorit. Sawah di Ubud berbeda dari sawah di daerah lain karena sistem pengairan yang diterapkan. Sebut saja Tegalalang, sawah yang berbentuk terasiring ini dialiri oleh air dengan metode subak. Subak adalah sistem pengairan sawah yang menerapkan prinsip tri hita kirana, hidup yang harmoni dengan Tuhan, harmoni dengan manusia dan harmoni dengan alam. Salah satu wujud keharmonisan masyarakat Hindu Bali dengan alam adalah menerapkan sistem mengairi sawah dengan air yang berasal dari mata air, danau atau canal kemudian dialirkan ke Pura dari Pura-pura tersebut aliran air diatur untuk mengalir ke sawah -sawah warga melalui sistem pengaturan air yang kooperatif oleh beberapa orang tokoh yang disebut Subak. Beberapa Pura seperti pura Taman Ayun, Pura Ulun Danu, Sungai pakerisan adalah contoh sumber pengairan sawah yang dilakukan para Subak. Sistem pengairan sawah yang bersumber dari Danau, Mata Air, Sungai dan Canal kemudian dialirkan ke Pura untuk diatur agar bisa mengaliri sawah warga ini sudah ada sejak seribu tahun yang lampau dan pada tahun 2012 UNESCO menetapkan subak sebagai warisan kekayaan budaya yang diakui Dunia.

Sawah di Bali tidak memakai pestisida dan pupuk buatan, sebagai bentuk penghormatan terhadap alam. Memang benar bahwa padi di Bali lebih gemuk, lebih hijau dan lebih enak. Rasa padi dan sayuran di Bali pun lebih segar. 

Tegalalang adalah salah satu dari ratusan terasiring di Bali, beberapa sawah di gunung Salak Denpasar pun tidak kalah cantik dibandingkan tegalalang. Tentu saja Tegalalang istemewa karena ditetapkan sebagai salah satu tempat tujuan wisata. Berkunjung ke Tegalalang ini tidak dipungut biaya, kita hanya perlu memarkirkan kendaraan disisi jalan, karena ladang padi Tegalalang berada di sisi jalan  tegalalang, sekitar 1 kilometer dari patung Ubud.

Hujan, sejuk dan sedikit lembab itulah cuaca Ubud. Tegalalang yang merupakan bagian dari Ubud pun memiliki karakteristik cuaca yang sama. Menurut salah seorang teman suamiku yang merupakan orang Bali, masyarakat Ubud sebagian besar adalah mereka yang berada di kasta atas, kasta brahmana dan kesatria karena Ubud sendiri dikelilingi oleh banyak istana dan tempat tinggal bangsawan Bali. Pada masa lampau ubud adalah wilayah dari tempat tinggal raja Bali dan keluarga serta para bangsawan. Jadi dapat dikatakan Ubud adalah semacam kota yang dihuni banyak keturunan dan bangsawan Bali seperti baluwerti di keraton Yogya yang merupakan wilayah keturunan bangsawan raja Yogya.

Lokasi Tegalalang sedikit menjauh dari kota Ubud, demikian juga sawah-sawah cantik disekitarnya. Sistem pengolahan tanah yang berbeda dari daerah lain di Indonesia ini menjadikan sawah-sawah di Bali berbeda juga. Rasanya tenang bisa bersepeda di pagi hari mendengarkan suara riuh aliran sungai yang masih bening dengan hijau bahkan kuningnya hamparan padi di sekitar Tegalalang sampai sungai Pakerisan. Julia Robert melakukannya dalam film Eat, Pray and Love..

Sunday, March 2, 2014

Wisata Bahari Lamongan


Nautical tourism, Wisata Bahari Lamongan is located in the village of Paciran of  Lamongan. Lamongan is a small town located on the north side of East Java, where most of the population live from subsistence of farming. Lamongan is surrounded by Karst hills and of course the Java Sea. According to my opinion the  Lamongan county tend to be less developed in terms of the economy, its cities deserted, almost no host activity. Lamongan had been popularity sticking in to international world as the birthplace of Amrozi and his brother who were the perpetrators of the Bali bombing aka terrorists. Wisata Bahari Lamongan is one form of rescue efforts of city reputation in addition to Soto as culinary.

By entering the Wisata Bahari Lamongan (WBL) activity of the citizens began to appear. WBL first made after the discovery of a cave by the citizen. The night before finding the cave, A man had a dream visited by an beautiful women on the other days he found a cave, called Maharani Caves which means Beautiful. Maharani's cave is the pride of the WBL.

Entrance ticket to the WBL is including cheap which is still under a hundred thousand of rupiah, certainly cheaper for visitor in a large group. After paying admission, Zoo with various import animals already await visitors. There Is A White Australia Kangaroos, Ilama, Stoats, Hippopotamus. In the middle of the Zoo there is a cave which is the mascot for the WBL. Maharani's cave which has installed with lights and stairs. The specialty of Maharani's cave is the existence of stalactite and stalagmites shaped considered to resemble something like the human genitals, it commonly says. 

Zoo, food court, Maharani' s cave to various attractions due various games like ghost hospitals and tornado as an offered. The play ground had been set on the side facing the Java Sea. While the Zoo and Maharani's cave are in the opposite side of the road. The rusted ion of the tornado struck for a little bit creepy of the game. Kodok's Cape sea became the WBL quotes from unnatural sand beaches, attractions such as boat rides, banana boa, tricycles water as an option to visitors.

Foods that can be found in the WBL are many face of meatballs either many food options that can be selected unless we bring by our self.


Wisata Bahari Lamongan terletak di desa Paciran Lamongan. Lamongan adalah kota kecil yang terletak di sisi utara Jawa Timur dimana sebagian besar penduduk Lamongan hidup dari bertani. Lamongan dikelilingi oleh bukit Karst dan tentu saja Laut Jawa. Menurut pendapatku kabupaten ini cenderung kurang berkembang dalam hal perekonomian, kotanya sepi, aktivitas warga hampir tidak ada. Nama Lamongan sempat mencuat sampai ke dunia Internasional karena merupakan kota kelahiran Amrozi dan adiknya yang merupakan pelaku Bom Bali. Wisata Bahari Lamongan adalah salah satu bentuk upaya penyelamatan nama baik kota selain Soto.

Begitu memasuki tiket masuk Wisata Bahari Lamongan ( WBL ) aktivitas warga mulai terlihat. WBL pertama kali dibuat setelah ditemukannya sebuah gua oleh warga. Malam sebelum menemukan gua, warga tersebut bermimpi didatangi wanita cantik. Gua tersebut kemudian diberi nama Goa Maharani yang merupakan kebanggaan dari WBL.

Tiket Masuk WBL termasuk murah masih dibawah seratus ribu rupiah, jika berombongan tentu lebih murah lagi. Setelah membayar tiket masuk, Kebun binatang dengan berbagai satwa impor sudah menanti kedatangan pengunjung. Ada Ilama, Kangguru Putih Australia, Cerpelai, Hipopotamus. Ditengah kebun binatang ada gua yang merupakan maskot WBL. Goa Maharani ini sudah dipasang lampu dan anak tangga, keistimewaan dari Goa Maharani adalah adanya stalagtit dan stalagmit yang berbentuk dianggap menyerupai sesuatu, dikatakan seperti alat kelamin.

Kebun binatang, food court, Goa Maharani hingga berbagai atraksi permainan seperti wahana Ancol, ada rumah sakit hantu, rumah kaca, tornado. Wahana bermain ini berada di sisi yang menghadap laut Jawa. Sementara Kebun binatang dan Goa Maharani berada si seberang jalan. Untuk permainan tornado terkesan agak menyeramkan, karena besi penopangnya sudah berkarat. Laut Tanjung Kodok menjadi penawaran dari WBL, dengan pasir pantai yang tidak alami, berbagai atraksi seperti naik perahu, banana boat, becak air bisa menjadi pilihan pengunjung.

Makanan yang bisa ditemukan di WBL adalah beraneka ragam bakso. Tidak banyak pilihan makanan yang bisa dipilih kecuali kita membawa makanan sendiri.

Love, Sex and Marriage

" Pa, anterin aku ke pasar "
" Emoh "
" Nggak mau nganterin ke pasar? Aku ga bisa bawa belanjaan banyak sendiri"
" Ga usah kepasar lagi"
" Halah, ga ke pasar sekarang juga besok besok harus ke pasar, yuk"
" Emoh "
" Kalau aku nggak ke pasar berarti ntar beli makan diluar, kalo duit habis jangan ngamuk!"
" Ga usah ke Pasar"
Begitu aku udah kebawa males dan ga mood, udah agak siang...
" Ma ayo kepasar"
" Katanya tadi ga usah"
 "Lah bukannya dari tadi Mama yang ngajakin"

I asked, " Pa, Take me to the market ! '' 
My Husband replied,  '' No!"
" You don't want to take me, I can't bring a lot of groceries alone by two of my hand ''
" No"
" Not going to the market today but tomorrow and the other tomorrow should be to the market, Let's go!"
" No"
 '' If I am not going to buy into the market means we are going to eat outside, then if your money run out don't be crazily angry" 
" No"
While I became lazy and lost my mood to go to the market, one hours later  he simply replied " Ma Let's go to the market!"
I said, " Last time you said no!'' 
" Loh instead of you ask me "

Saturday, March 1, 2014

Tunjungan Plaza

Mall
Tempat hiburan
Parkirnya ruwet, macet, rebutan
Sering ada Show
Ramai
Mbak yang jaga tiket parkir pakai belel
Berjalan seakan mengutak- atik Handphone
Berpura-pura tidak peduli
Event
Pameran
Surabaya Lautan Perempuan
Makan
Fashion

Tunjungan Plaza, Surabaya


Mall
Entertainment
Intricate Jammed Parking line
Lively Show
A Braces women on park's ticketing
Walked drew by hand phone
Pretending to be stoic
Event Exhibition
Fashion
Eat
Big waves of women


Stopping by Tunjungan Plaza


Gunung Bromo



Hal yang sedikit membingungkan bagi sebagian besar orang adalah rute ke Gunung Bromo, tidak buat suamiku tercinta. Mau ke Bromo sisi yang mana dulu, secara garis besar gunung Bromo dapat ditempuh dari jalur Malang atau lewat Probolinggo. Jika ditempuh dari Malang sedikit lebih cepat, tapi jalannya agak rusak dan offroad. Jika ditempuh dari Probolinggo, jalurnya lebih aman. Rata-rata orang menyewa jeep karena jalannya berkelok-kelok kanan kiri jurang, tentu tidak buat suamiku. Kita membawa kendaraan sendiri. Baik itu lewat jalur probolinggo atau Malang kita hanya perlu mengikuti plang saja. Jika kita menempuh perjalanan dari arah surabaya lewat Probolinggo, plang ke arah Bromo ada di kiri jalan, jika dari arah Kediri plang ada di kiri Jalan. Jika kita menempuh rute Malang, dari arah Surabaya plang ada di kiri jalan sebelum kebun raya dan jika kita dari Blitar kearah Bromo plang ada di kiri Jalan sebelum kebun raya.


Bromo? Mau naik kuda menyentuh kawahnya langsung, lewat bukit teletubis atau melihat sunrise di bukit penanjakan. Yap dua-duanya kita lakukan, meskipun rutenya berbeda, kita tidak bisa turun dari penanjakan untuk menaiki kawah Bromo, karena jalannya berkerikil dan cuma setapak.

Jalan ke arah bukit Pananjakan cukup curam, demikian juga ke arah kawah Bromo, jurang di kanan kiri, buat yang tidak ahli bisa menyewa jeep. Kita sampai di bukit pananjakan Sore hari, cuaca berkabut, terlihat gunung Semeru dan Bromo seolah berdampingan, sepanjang bukit banyak hotel, untuk menunggu sunrise.. Tapi kita melanjutkan perjalanan turun bukit penanjakan menuju ke arah gunung Bromo, saat itu hujan lebat, sudah sore, jalan pun rawan longsor, empat jempol deh buat papak. Kita kemudian memutuskan menginap di hotel dekat kawah Bromo, ternyata harga hotel di dekat Kawah Bromo ini murah- murah, masih dalam kisaran ratusan ribu rupiah. Bangunannya juga cukup bersih, pegawai dan pengelolanya ramah seperti orang Bali. Beristirahat kita malam itu, percaya atau tidak udara yang sangat dingin membuat kita tidak membutuhkan AC. Pagi hari kita makan menu hotel dengan teh hangat, udara pegunungan yang dingin membuat semua masakan hangat itu terasa lezat.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke arah kawah Bromo, jalan berpasir membuat roda agak ngesot. Dua kilometer mendekati kawah Bromo banyak sayuran segar seperti kubis, kol dan sawi di kanan kiri jalan. Mendekati loket masuk, kita akan menemukan banyak penyewa kuda menyewakan kudanya karena jarak tempat parkir ke kaki kawah cukup jauh. Setelah berkuda, dengan rute yang agak curam, kita pun naik ke atas kawah bromo melalui ratusan anak tangga yang melelahkan. Sepanjang anak tangga ada beberapa warga yang menawarkan jasa mengendong anakku sampai atas, tapi aku bilang nggak, biar dia olahraga, biar nggak males. Sampailah kita di puncak dunia, diatas kawah Bromo, pada perayaan Kasada warga Tengger, suku asli Bromo membuang sesaji ke kawah Bromo. Mayoritas warga Tengger beragama Hindu, dulu saat gunung Bromo meletus, rumah penduduk banyak yang rusak tapi pura dibawah kaki kawah Bromo justru tidak rusak kata penyewa kuda. Berputar-putar diatas kawah sampai puas, belerang gunung Bromo pun terasa panas di kulit, entah kenapa udaranya pun terasa panas, setelah puas kita turun lagi ratusan anak tangga dan berjalan ke arah bukit teletubis, dengan pasir berbisiknya. Pasir ini ternyata memang bisa berbisik, sssssssssssssssssshhhhhhhhhsssssssstttttt setiap tertiup angin mengisyaratkan agar orang -orang berhenti mengurusi orang lain dan diam.


Senang..senang dan bahagia, meskipun udara agak panas karena kepulan asap belerang, setelah puas bermain-main kita ucapkan selamat tinggal ke gunung Bromo. Keesokan harinya muka kita memerah seperti tomat. Setelah satu minggu kulit nggak memerah lagi justru menjadi semakin berkilau.



Mount Bromo 


A little bit confusing for most people about the route to mount Bromo but my beloved husband didn't. First at all we must decided where side of Bromo we want to. Generally mount Bromo is can be reach by passing lanes of Probolinggo or Malang. If taken from Malang it will be little faster, but the road is somewhat damaged and off road. If taken from Probolinggo, the coaster is safer. Average people rents a jeep due the winding ravine of the road, certainly not for my husband. We bring our own vehicle. If we want to go to Bromo through Malang or Probolinggo. We just finally reached by followed the signpost. If we traveled on Probolinggo from Surabaya passing a signpost towards Bromo is on the left path, while from Kediri we can find the direction to Mount Bromo in left of the road. If we take the route of Malang from  Surabaya, we can find the signpost on the left of the road before kebun raya and if we are from Blitar to Malang a signpost towards Bromo is on the left path before kebun raya.


Bromo? Want to ride a horse and to touch its crater directly then passing Hill of teletubis or see the sunrise on Mount penanjakan. Yep we do both without the sunrise, although the route is different, we cannot go down from penanjakan to climb the Bromo crater as a trail and pebble course.

The road towards mount Pananjakan is pretty steep so did the road toward Bromo crater, ravine on the right and left. That is way un expert could rent a jeep due its ravine road. We had been up in the hills in the afternoon, the weather of Mount Pananjakan was foggy, We could see mount Semeru but Mount Bromo was look as if it side by side. Along the hills are many hotels that is used to wait for Penanjakan sunrise. We had continued our journey down to the hill towards Mount Penanjakan to Bromo crater without spent a night at Penanjakan Hotel. It was a heavy afternoon foggy rain, the road was prone to avalanche, four thumb ups to my husband! We had been down the road continued to Bromo Crater's road then decided to stay at the hotel near Bromo crater, apparently the price of hotels near Bromo's crater are cheap, which are still in the range of hundreds of thousands of rupiah. The building were nice so did the staff. The cold mountain air made us did not require to use the air conditioning. In the morning we packed breakfast menu with hot tea, cool mountain air make all warm dishes tasted more delicious than usual.


We had continued our journey towards the sandy streets of Bromo crater, a hard work duty to our wheels. Two miles approached the Bromo crater many fresh vegetables such as cabbage, cauliflower and Collards was in the street. Approaching the counter of entry, we had found many tenants renting horses to reach the crater which is far enough from the parking line. had been riding, with a rather steep routes, we gone up to the top of the bromo crater through the hundreds of exhausting stairs. Along the stairs there was some citizens who offered services to take my son up to the top, but I said " No, let him does some exercise " We came in the top of the world. On the Kasada, the original tribes of Bromo called Tengger, throw away the offerings to the Bromo crater. The majority of the citizens of Tengger are Hindus. "Formerly the mount Bromo erupted, damaged many houses but temples under the crater of Bromo was precisely not broken!" said the tenants of the horse. Circling above the crater until satisfied, sulphur from mountain of Bromo had been feel in to  the heat of our skin so did air atmosphere. Had been satisfied, we climbed down again hundreds of stairs and walked towards the Hill teletubis, for whispering sand. These turned out to be sand can indeed whisper, every blown sssssssssssssssssshhhhhhhhhsssssssstttttt hinted as an order to people to stop taking care of others business, shout their mouth up and  be silence sssssssssssssssssssssssssssshhhhhhhhhhhhhhhhhhhhssssssssssssssttttttttttt.  

Happy..Happy and Happy, although a little hot as the air puff the fumes of sulfur, having satisfied tinkering we said goodbye to mount Bromo. The next day, our face flushed like a tomato. After one week our skin reddened again then become increasingly sparkling.